Selasa, 07 Mei 2013

STUDI AL-QU’RAN DALAM PERSPEKTIF ULUMUL QURAN



STUDI  AL-QU’RAN
DALAM PERSPEKTIF ULUMUL QURAN
Dr. Teungku Saifullah, S.Ag, M.Pd

A.    LATAR BELAKANG
Alquranmerupakan kitab suci yang menempati posisi sentral, bukan hanya dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu ke-islaman namun juga merupakan inspirator, pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang sejarah. Kitab suci ini diturunkan Allah kepada nabi pamungkas, Muhammad saw lengkap dengan lafal dan maknanya, diriwayatkan secara mutawatir, memberi faedah untuk kepastian dan keyakinan, ditulis dalam kitab suci mulai awal surat al-fatihah sampai akhir surat an-nas (Mushaf Usmany), diperintahkan untuk disampaikan kepada umatnya, sebagai pedoman dan tuntunan hidup bagi umat manusia. Dasar dari ajaran islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai dalam sumbernya yang asli di dalam ayat-ayat Alquran. Quraish Shihab menyebutkan bahwa agama Ialam mempunyai satu sendi utama yang esensial, yaitu alquran yang berfungsi memberikan petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya.
Studi Alquran adalah ilmu yang membahas tentang segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Alquran. Alquran sebagai kitab suci umat islam yang berlaku sepanjang zaman tidak akan pernah habis dan selesai untuk dibahas. Inilah yang membuktikan kemukjizatan Alquran sekaligus perbedaan Alquran dengan kitab suci lainnya. Pengkajian studi ini sangatlah penting bagi umat islam khususnya, agar dapat mengetahui berbagai hal yang terkandung di dalam kitab suci tersebut. Untuk memudahkan dalam membahas kajian ini, penulis akan memberikan batasan-batasan pada makalah ini. Adapun yang menjadi objek pembahasan makalah ini meliput, definisi Alquran, wahyu dan ilham, kajian Alquran di kalangan muslim generasi awal, pendekatan dalam studi Alquran, perkembangan mutakhir, dan kontribusi para ilmuan barat dalam studi Alquran

B.     PENGERTIAN

Untuk lebih memudahkan kita dalam memahami isi dan maksud dari tulisan ini akan dijelaskan istilah-istilah kunci seperti, Alquran, wahyu, dan ilham, sebagai berikut:
1.   Definisi Al-Qur’an
Berbagai definisi Alquran telah diberikan oleh para ulama sesuai dengan latar belakang keahlian mereka masing-masing.Kaum tiolog misalnya cendrung mendefinisikannya dari sudut pandang tiologi, maka mereka (seperti Al-Asya’riyyat, Al-Maturidiyyat dan lain-lain) mengatakan bahwa,”Alquran adalah kalam Allah yang qadim tidak makhluk”.Sementara itu kaum Muktazilah dan kawan-kawan, yang menganut bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, menyatakan bahwa, “Alquran ialah makhluk (tidak qadim)”.Sementara itu kaum filosof melihat Alquran dari sudut pandang filosofis. Itu sebabnya mereka berpendapat bahwa Alquran ialah “makna yang melimpah kepada jiwa”. Disamping itu ahli Bahasa Arab, para fukaha, dan ahli ushul fiqh lebih menitik beratkan pengertian Alquran itu pada teks (lafal) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw mulai dari al-Fatihah sampai surat an-Nas.
Secara orang-perorangan juga dapat dilacak tentang perbedaan-perbedaan dalam mendefinisikan pengertian Alquran, sebagai berikut. Pertama, Majfuk Zubdi Mendefinisikan Alquran adalah Kalama tau Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang pembacaannya merupakan suatu ibadah. Kedua, Abd al-Wahab Khallaf mendaefinisikan Alquran adalah firman Allah yang dibawa turun oleh Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hati sanubari Rasul Muhammad bin Abdullah sekaligus bersama lafal Arab dan maknanya, benar-benar sebagai bukti bagi rasul bahwa itu adalah utusan Allah dan menjadi pegangan bagi manusia agar mereka terbimbing dengan petunjuk-Nya ke jalan yang benar, serta membacanya bernilai ibadah. Semua firman itu terhimpun di dalam mushaf yang di awali dengan surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, diriwayatkan secara mutawatir dari satu generasi kke generasi yag lain serta senantiasa terpelihara ke-orisinilnya dari segala bentuk  ke-orisinalannya dari segala bentuk perubahan dan penukaran atau pergantian.  Ketiga, Al-Jurjani Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan kepada rasul, tertulis dalam mushaf-mushaf yang diriwayatkan dengan cara mutawatir tanpa syubhat.
            Dalam definisi di atas terlihat dengan jelas beberapa unsure pokok yang dimiliki oleh Alquran merupakan criteria yang membedakannya dari karangan atau kalam makhluk. Unsur-unsur itu ialah sebagai berikut. Pertama, Firman Allah. Firman artinya titah atau sabda. Dalam bahasa arab disebut kalam. Jadi firman Allah adalah kalam Allah, dengan demikian Alquran yang diterima nabi Muhammad SAW bukan hanya maknanya saja melainkan sekaligus bersama-sama lafalnya. Kedua, dibawa turun oleh Jibril lafal dan maknanya. Unsur ini memberikan batasan bahwa Alquran yang diterima Nabi Muhammad SAW itu tidak langsung dari Allah melainkan melalui malaikat Jibril. Sementara hadis-hadis nabi, termasuk hadis qudsi dilhamkan langsung oleh Allah tanpa melalui Jibril. Disinilah terletak salah satu perbedaan yang prinsipil antara Alquran dengan hadis qudsi. Ketiga, bukti kerasulan Nabi Muhammad SAW. Alquran menjadi bukti atas kerasulan beliau, artinya merupakan mu’jizat baginya. Terhimpun didalam mushaf. Unsur ini member penegasan bahwa ayat-ayat yang dapat diterima sebagai Alquran ialah yang tidak menyimpang dari isi  mushaf Utsmani. Diriwayatkan secara mutawatir artinya wahyu yang ditrima rasul Allah SAW itu harus diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang menurut kondisi biasa (‘adat) mustahil mereka sepakat berdusta. Keempat, membacanya bernilai ibadah ini memberikan batasan dan sekaligus mendorong umat islam agar sering membaca Alquran, sebab membacanya adalah salah satu bentuk amal yang bernilai ibadah. Kelima, diawali dengan surat Al-fatihah dan ditutup dengan surat Al-Nas. Persyaratan ini merupakan penegasan ulang dan melengkapi criteria-kriteria yang telah disebutkan sebelumnya.
            Tanpa mengurangi arti perbedaan pendapat itu, maka yang dimaksud dengan Alquran dalam tulisan ini yang kita jumpai sekarang dalam Mushhaf Usmani mulai dari al-Fatihat sampai surat al-Nas, bukan kalam yang masih berada pada Tuhan, dan bukan pula yang berada di langit Lawh Al-Mahfuzh.

2.      Definisi wahyu
Wahyu mengandung makna isyarat yang cepat. Itubterjadi biasanya melalui pembicaraan yang merupakan simbol, terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anngota badan. Al-Wahyu adalah kata mashdar (infinitif). Dia menunjuk pada pengertian dasar yaitu, tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu dikatakan wahyu, karena informasi secara tersembunyi dan cepat yang khnusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain. Tetapi terkadang juga bermaksud al-Yuha yaitu pengertian isin maf’ul, maknanya yang diwahyukan.
Wahyu berasal dari kata wahy, dari kata kerja bahasa arab, waha, yang berarti meletakkan dalam pikiran , kadang-kadang dipahami sebagai “inspirasi”. Alquran menggunakan istilah ini tidak hanya untuk inspirasi ilahiyah yang diberikan kepada manusia, tetapi juga untuk komunikasi spiritual di antara makhluk-makhluk yang lain. Namun, wahyu merujuk secara spesifik kepada wahy, yakni inpirasi ilahiyah yang diberikan kepada manusia terpilih, yang dikenal sebagai nabi-nabi, dengan maksud sebagai petunjuk.Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu didalam Risalat al-Tauhidnya adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang daru dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa itu dating dari Allah melalui perantara atau tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.

3.   Definisi Ilha
Kata ilham dalam Alquran disebutkan dalam bentuk fi’lun madhi (kata kerja sudah berlaku), sebagaimana terdapat dalam surat Asy-syams yang artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.(QS. Asy-syams:8).
Dalam Mu’jam Al-Lughat Al-Arabiyyat menyatakan bahwa makna ayat tersebut adalah Allah menanamkan ke dalam jiwa manusia perasaan yang dapat membedakan antara kesesatan dan petunjuk. Kemungkinan orang sekarang menanamkan sebagai hati nurani. Az-zubaidi menghatakan ilham, ialah apa-apa yang diletakkan dalamn hati dalam bentuk yang melimpah dan khusus dengan sesuatu yang datangnya dari pada Allah atau dari pada para malaikat. Meletakkan sesuatu didalam hati, yang karenanya hati menjadi tenteram dan hal itu dikhususkan oleh Allah bagi parahamba yang dikehendaki-Nya.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ilham ialah Allah menanamkan di dalam jiwa seseorang sesuatu yang dapat mendorongnya untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, dan ia termasuk jenis wahyu yang dengannya Allah mengkhususkan siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambaNya. Ilham adalah menanamkan sesuatu dalam hati secara melimpah. Sementara pakar yang lain mendefinisikan bahwa, ilham adalah intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta tanpa mengetahui bdari mana datangnya. Hal seperti ini serupa dengan perasaanh lapar, haus, sedih, dan senang. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa ilham ialah suatu bentuk ilmu yang Allah berikan secara langsung kepada hamba-hamba yang dikasihiNya. Nama lain bagi hamba-hamba ini adalah Wali Allah. Ilham diberikan kepada mereka sebagai keramah atau kemuliaan untuk membantu mereka memahami isi Al-Quran dan Hadis. Dikatakan juga ilham itu satu cabang dari pada ilmu kasyaf. Roh seorang hamba Allah kalau dia terlalu bersih, mata hatinya lebih tajam dari mata lahir atau bmata kepala, sebahagian perkara yang ghaib Allah perlihatkan kepadanya. Itulah yang dikatakan mukasyafatul qulub. Dari defenisi diatas dapat disimpulkan, ilham adalah penyampaian suatu makna, fikiran atau hakikat di dalam jiwa atau hati secara melimpah. Aksudnya Allah menciptakan padanya ilmu daruri yang ia tidak dapat menolaknya, yaitu bukan dengan cara dipelajari akan tetapi dilimpahkan ke dalam jiwanya bukan karena kemahuannya.
C.    Kajian Alquran di Kalangan Muslim Generasi Awal
Bagi kaum muslimin, Alquran adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril selama lebih kurang 23 tahun. Berbicara tentang kajian Alquran yang dilakukan oleh kaum muslimin awal, pada masa ini penulisan dan pengumpulan Alquran terjadi pada tiga periode yaitu, zaman nabi, zaman Abu Bakar dan zaman Usman bin Affan. Kodifikasi atau pengumpulan Alquran telah dimulai sejak masa-masa awal turunnya Alquran. Sebagaimana diketahui Alquran diturunkan secara berangsur-angsur. Dalam berbagai riwayat yang shahih disebutkan bahwa setiap turun wahyu, nabi memanggil para penulis wahyu untuk mencatat wahyu yang turun. Misalnya Nabi berkata ketika turun ayat 95 surat an-Nisa: Panggilkan Zaid, dan hendaklah ia membawa tulang dan tinta kesini.
            Orang pertama yang menjadi penulis wahyu bagi Nabi di periode Mekkah ialah Abdullah bin Abi Sarah, al-Zubair bin Awwam, Tauhid dan Aban dan putra said bin al-Ash bin Umayyah, Hanzhalah Muaqid, Abdullah  bin al-Arkom, Syurahbil bin hasanah dan Abdullah bin Rawahah. Setelah hijrah ke Madinah maka yang mula-mula menjadi penulis wahyu adalah Ubay bin Kaah, Zaid bin Tsabit dan sejumlah sahabat lainnya. Bahan yang dipakai untuk mencatat wahyu-wahyu yang turun ialah benda-benda yang dapat ditulis dan mudah didapatkan waktu itu seperti al-riqa’ (batu, pelepah qurma, tulang dan sebagainya). Dalam pencatatan wahyu tersebut, para penulis wahyu mengikuti pedoman yang digariskan, antara lain mereka tidak dibenarkan sedikitpun menuliskan apa yang disampaikan nabi selain Alquran. Seprti hadis riwayat Muslim: “janganlah kamu tulis dariku kecuali Alquran, dan siapapun yang menuliskannya hendaklah dihapus”.
Setelah Rasul meniggal, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah. Pada masa itu terjadi kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang murtad, dan musuh-musuh islam. Hal ini menimbulkan terjadinya perang Yamamah, menurut sejarah banyak penghafal Alquran yang syahid. Peristiwa ini menggugah Umar bin Khattab  dan meminta pada Abu Bakar untuk mengumpulkan dan menuliskan Alquran dalam satu mushaf. Karena khawatir Alquran akan hilang berangsur-angsur, jika mengandalkan hafalan. Maka, pada masa ini Abu Bakar membentuk tim, dimana cara pengumpulan dan penulisannya amat ketat, dalam arti tim harus tidak mau menerima satu naskah pun kecuali yang memenuhi dua syarat, yaitu harus sesuai dengan hafalan para sahabat lainnya, dan tulisan itu benar-benar yang ditulis atas perintah dan dihadapan Nabi. Pada masa Usman mushaf yang disimpan oleh hafsah itu dipinjam dan disalin lagi (diperbanyak penulisannya) ke dalam beberapa mushaf. Dengan demikian acuan tetap berasal dari sumber aslinya, yaitu petunjuk Nabi. Penyalinan mushaf ini diklaksanakan oleh Zaid bin Tsabit dan selesai pada tahun 25 Hijriah.
            Selain kegiatan penulisan dan penyusunan Alquran, kajian yang lain pada masa muslim awal adalah penafsiran Alquran. Penafsiran Alquran telah tumbuh pada masa Nabi dan beliau sebagai mufassir awwal dari kitab Allah untuk menerangkan maksud-maksud wahyu yang diturunkan padanya. Penafsiran Rasul adakalanya dengan sunnah kauliyah, adakalanya denagn sunnah fi’liyah, dan terkadang dengan sunnah taqriyah. Pemahaman atau penafsiran Rasul terhadap Alquran selalau dibantu oleh wahyu. Penafsiran pada masa sahabat terhadap Alquran senantiasa mengacu kepada inti dan kandungan Alquran, para sahabat banyak merujuk kepada pengetahuan mereka tentang asbabun nuzul ayat. Oleh karena itu  mereka tidak mengkaji segi Nahwu, I’rab, Balaghah, Lafadz, dan susunan kalimat, Munasabah dan segi-segi lainnya yang sangat diperhatikan oleh mufassir-mufassir dikemudian hari. Adapun para sahabat dan ahli tafsir antara lain Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibn Mas’us, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ah, Zaid bin Tsabit, Abu Mus al-Asy’ari. Abdullah bin Zubair. Namun pada masa nabi sampai Tabi’in tidak ada kitab Tafsir yang tampil, kecuali Tanwir al-Miqbas Min Tafsir Ibnu Abbas (kumpulan tafsir Ibnu Abbas) yang oleh Abi Thashir Muhammad bin Ya’kub Asy-Syirazi (w.817M).

D.    Pendekatan dalam studi Alquran
Kesalahan dalam memahami Al-Qur’an akan menyebabkan manusia tersesat. Mempersepsi Alquran secara tidak tepat juga akan jauh dari petunjuk-Nya. Satu kritik yang dilontarkan para ulama dan cendekiawan Muslim terhadap umat islam ialah mereka meninggalkan Alquran dalam arti yang luas. Faktor penyebab mundurnya umat islam yang paling dominan adalah karena mereka belum mengamalkan Alquran dalam arti yang sebenarnya, kebanyakan mereka hanya memahami Alquran dalam tingkat membaca, menghafal dan memperlombakan. Namun hakikat sebenarnya yakni mengamalkan kandungan Alquran yang sebenarnya belum dapat dilaksanakan.
Untuk memahami atau menafsirkan Alquran, baik secara al-mu’tsur (wahyu) maupun secara ijtihad memerlukan seperangkat ilmu bantu seperti bahasa Arab dengan berbagai cabang ilmunya. Ulumul Quran dengan cabang ilmunya. Adapun cabang-cabang ilmu dari Ulumul Quran tersebut antara lain: 1). Ilmu Asbabun Nuzul, 2). Ilmu Makki dan Madani, 3). Ilmu Nasakh dan Mansukh, 4). Ilmu Fawatih as-suar dan khawatimuha, 5). Ilmu Muhkam dan Mutasabbih, 6). Ilmu ‘Ijazul Qur’an, 7). Ilmu Qira’ah, 8). Ilmu Aqsam Al-Qur’an, 9). Ilmu Balagha Al-Qur’an, 10). Ilmu Munasabah, 11). Ilmu Qashasil Qur’an, 12). Ilmu Amtsal Qur’an, 13). Ilmu Rsam Utsmani, 14). Ilmu Takhrijil Ma’na, dan 15). Ilmu Jami’ul Qur’an.
Sampai saat ini yang paling populer tentang pendekatan dalam studi Alquran masih berkisar pada lima pendekatan, yaitu: Pertama, Pendektan bi al-Ma’tsur (wahyu) Sebagaimana dijelaskan Al-Frmawi, studi Alquran dengan pendekatan bi al-Ma’tsur (disebut juga bi ar-riwayah dan an-naql) adalah penafsiran Alquran yang bedasarkan pada penjelasan Alquran sendiri, penjelasan Rasul, penjelasan para sahabat, dan aqwal thabi’in. Kedua, Pendekatan bi al-Ra’yi (ijtihad). Sebagaimana didefinisikan Husen Adz-Dzahabi yang dikutip Rosihan Anwar, studi Alquran dengan pendekatan bi al-Ra’yi adalah menafsirkan Alquran yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir setelah terlebih dahulu mengetahui bahasa Arab serta metodenya, dalil hokum yang ditunjukkan, serta problema penafsiran seperti asbab an-nuzul, nasikh-mansukh, dan sebagainya. Ketiga, Pendekatan sejarah. Dalam konteks studi Alquran, Pendekatan sejarah merupakan salah satu pendekatan yang sangat membantu dalam memahami Alquran, karena analisis sejarah akan mengantarkan pada pemahaman terhadap konteks mikro (sebab turunnya ayat) dan makro (kondisi sosiologi) yang melatar belakangi turunnya ayat Alquran. Keempat, Pendekata Hermeneutika. Secara etimologi kata “hermeneutika” mengakar pada kata kerja bahasa Yunani hermeneutika yang berarti “penafsirkan” dan pada kata benda hermenia yang berarti penafsiran. Dalam Studi Alquran pendekatan ini sangat penting dilakukan, karena pada dasarnya Hermeneutika berkaitan erat dengan bahasa, yang diungkapkan, baik melalui pikiran, wacana maupun tulisan. Alquran sendiri tidak terlepas dari teks/bahasa yang harus diinterpretasikan dengan konteks social yang ada. Kelima, Pendekatan Kontekstual. Menurut Noeng Muhadjirin sebagaimana dikutib oleh Ahmad Syukri Saleh pendekatan Konstektual dalam studi Alquran, sedikitnya mengandung tiga pengertian. Pertama upaya pemaknaan dalam rangka mengantisipasi persoalan dewasa ini yang umumnya mendesak, sehingga arti  konstektual identik dengan situsional. Kedua pemaknaan yangmelihat keterkaitan masa lalu,masa kini dan masa yang akan dating: dimana suatu akan dilihat dari sudut makna histories dulu, makna fungsional saat ini dan memprediksi makna yang dianggap relevan dikemudian hari. Ketiga mendudukkan keterkaitan antara yang sentral dan periferi, dalam arti yang sentral adalah teks Alquran dan yang periferi adalah terapannya.

E.     Metode Penafsiran Alquran
Berdasarkan beragam pendekatan yang ditempuh oleh seorang mufassir, Dr.Abdul Hay Al-Farmawi membagi metode tafsir, kepada empat macam, yaitu: Pertama,   Metode tafsir Tahliliy.Metode tafsir Tahliliy ialah dikenal dengan metode analitik, yaitu menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan memaparkan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang sedang di tafsirkan itu serat menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan dari mufassir yang menafsirkn ayat-ayat tersebut. Kedua, Metode tafsir Ijmaliy.Metode tafsir Ijmaliy dikenal dengan Metode Global, Yaitu,menjelaskan ayat-ayat Alquran secara ringkas dan padat,tapi mencakup;dan enak dibaca, sistimatikan penilusannya menuruti susunan ayat di dalam mushaf.di samping itu penyajiannya diusahakan tidak terlalu jauh dari gaya (uslup) bahasa Alquran.Ketiga, Metode tafsir Muqarran.Metode tafsir Muqarrindikenal dengan metode komperatif, yaitu mufassir berusaha 1). Membandingkan taks (nash) ayat-ayat Alquran yang memiliki persamaan atau kemiripan rediksi yang beragam, dalam satu kasus yang sama atau diduga sama, 2). Membandingkan ayat Alquran dengan hadits Nabi saw. Dan 3). Membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran. Keempat, Metode tafsir Maudlu’i. Metode tafsir Maudlu’iy dikenal dengan metode Tematik, yaitu terdiri dari dua bentuk. Bentuk pertama adalah tafsir tematik dengan cara membahas satu Alquran secara menyeluruh. Memperkenalkan dan menjelaskan maksud-maksud umumnya secara garis besar, dengan cara menghubungkan berbagai ayat dan berbagai ayat dan berbagai pokok masalah dalam satu urat tertentu. Bentuk kedua adalah tafsir tematik dengan cara menghimpun dan menyusun seluruh ayat yang memiliki kesamaan arah, kemudian menganalisanya dari berbagai aspek, untuk kemudian menyajikan hasil tafsiran kedalam satu tema tertentu.
Disamping studi Alquran dapat dilihat dari sudut pendekatan,dan metode,juga dapat dilihat dari sudut pandang corak penafsiran. Rachmat Syafe’I membagi corak penafsiran Alquran kepada lima pembagian yaitu, al-Fiqhi, al-Sufi, al-Ilmi, al-Adabi Ijtima’I,dan al-Falsafi,dengan penjelasan sebagai berikut. Pertama, Tafsir al-fiqh. Tafsiral-Fiqh ialah penafsiran ayat Alquran yang dilakukan oleh tokoh suatu mazhab untuk dapat dijadikan sebagai dalil atas kebenaran mazhabnya. Tafsir fiqh banyak di temukan dalam kitab-kitab fiqhi karangan imam-imam dan berbagai mazhab yang berbeda. Salah satu kitab tafsir fiqhi adalah kitab: Ahkam Alquran karangan al-jasshashl. Kedua, Tafsir al-Shufi. Penafsiran yang dilakukan oleh para sufi pada umumnya dikuasai oleh ungkapan mistik. Ungkapan-ungkapan mistik tersebut tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang sufi dan yang melatih dari untuk menghayati ajaran tasawuf. Terdapat dua arah dalam menafsirkan alquran: a). tasawuf teoritis (al-tasawuf al-nadhary). Aliran ini mencoba meneliti dan mengkaji Alquran berdasarkan teori-teori mazhab dan sesuai dengan ajaran-ajaran mereka. Mereka berusaha maksimal untuk menemukan ayat-ayat Alquran tersebut, faktor-faktor yang mendukung teori mereka, sehingga tampak berlebihan dan keluar dari dhahir yang dimaksudkan syara’dan didukung oleh kajian bahasa. Penafsiran demikian ditolak dan sangat ditolak dan sangat sedikit jumlahnya. Tidak pernah ada karya yang lahir dari aliran ini secara lengkap mengikuti mushaf usmani, kecuali hanya karya penafsiran ayat-ayat Alquran secara acak yang dinisbahkan kepada Ibn arabi yang bernama kitab al-futuhat al- makiyyah wa al-fushush. b). Tasawuf Praktis (al-tasawuf al-amaly). Tasawuf praktis adalah tasawuf yang mempraktikan gaya hidup sengsara, zuhud dan melebur diri dalam ketaatan kepada Allah. Para tokoh aliran ini menamakan tafsir mereka dengan tafsir al-Isyari,yaitu mentakwilkan ayat-ayat, berbeda dengan arti dhahirnya berdasarkan isyarat-isyarat tersembunyi yang hanya tampak jelas oleh para pemimpin suluk, namun tetap dapat dikompromikan dengan arti dhahir yang dimaksudkan. Diantara kitab tafsir adalah tafsir Alquran Al-karim, karya Sahl bin Abdullah At-Tusturi dan Haqaiq al-tafsir, karya Abu Abdul Rahman Al-Sulumi. Ketiga, Tafsir al-Ilmi. Aliran tafsir ini mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam Alquran dengan mengaiykannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan  medorn yang timbul pada masa sekarang, di antara kitab tafsir ilmi adalah: Tafsir Al-Islam Yataadda, karangan Al-AllamahWahid al-Din Khan. Keempat,Tafsir al-Adabi al-Ijtima’I. Aliran tafsir adabi muncul sebagai akibat perkembangan kehidupan modern. Aliran tafsir berusaha memahami nash-nash Alquran dengan cara teliti selanjutnya menjelaskan makna-maknayang dimaksud Alquran dengan gayabahasa yang indah dan menarik. Selanjutnya penafsir berusaha menghubungkan nash-nash Alquran dengan realitas social dan systim budaya yang ada dengan prinsip bahwa Alquran bersifat umum, inti dari prinsip ini adalah bahwa kandungan dan petunjuk Alquran bersifat umum, representative dan berkelanjutan terus sampai hari kiamat. Tokoh pertama yang memperkenalkan aliran ini adalah Muhammad Abduh. Di antara kitab tafsir aliran ini adalah tafsir al-manar karya Muhammad Rasyid Ridha,Tafsir Maraghi, karyaMustafa al-maraghi. Kelima, Tafsir al-falsafi. Aliran tafsir falsafi adalah cara penafsiran ayat-ayat Alquran dengan menggunakan teori-teori filsafat. Penafsiran ini berupaya mengompromikan atau mencari titik temu antara filsafat dan agama serta berusaha menyingkirkan segala pertentangan  di antara keduanya. Di antara kitab tafsir yang ditulis berdasarkan berdasar corak falsafi ini yaitu kitab tafsir Fathul Bayan, Karya Siddiq Khan.
Penjelasan mengenai corak  penafsiran Alquran dalam lintasan sejarah terakhir, sebagaimana tersebut di atas, sudah dapat membawa kita kepada beberapa karya terpenting dalam Studi Alquran, baik dalam bentuk al-Fiqhi, al-Sufi, al-Ilmi, al-Adabi Ijtima’I maupun al-Falsafi.

F.     Perkembangan Mutakhir dalam Studi Alquran
Ilmuwan muslim baik klasik, maupun konteporer telah begitu banyak menyusun kitab-kitab yang membahas menyangkut dengan Alquran dengan berbagai pendekatan, metodelogi dan corak pengkajian. Ternyata Studi Alquran ini tidak saja mendapat perhatian serius para ilmuan Muslim saja, tetapi di era modern ini, juga telah banyak para ilmuan-ilmuan Barat yang mencoba melakukan studi terhadap Alquran. Seperti yang dilakukan oleh G. Weil telah berusaha menyusun surat Alquran secara kronologis, dimulai tahun 1844 dan baru selesai tahun 1872 di dalam bukunya “Historisch Kritische Einletung in der Koran”. Kemudian Blachere yang telah berusaha menerjemahkan Alquran di dalam bukunya yang berjudul “Le Goran, Trduction Selon Un Essai De Reclassemenet des Sourates”.Terjemah tersebut yang oleh Blachera dikatakan terjemahan yang paling cermat dan teliti, kerena nilai ilmiah yang menonjol di dalamnya.
Demikian juga dengan ilmuan muslim yang telah melakukan daya upaya dan potensi yang ada, agar dapat menginterpretasikan makna Alquran secara actual dan kekinian, sehingga melahirkan sejumlah metode dan pendekatan-pendekatan baru yang sangat mengembirakan. Seperti Fazlur Rahman yang telah menawarkan metode Double movements (metode gerakan ganda) dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran metode Double movements adalah penafsiran yang berangkat dari situasi sekarang menuju ke situasi era Alquran diturunkan, (kemudian setelah diketahui konteks historis pesan itu dan disarikan prinsip-prinsip ideal moralnya) kembali lagi kepada situasi sekarang guna mengaplikasikan prinsip tersebut setelah mempertimbangkan perubahan social yang ada. Metode ini tergolong baru dalam dunia Studi Alquran sekarang ini.

G.    Kontribusi para Ilmu barat dalam Studi Alquran
Telah banyak yang dilakukan oleh kalangan ilmuwan muslim dalam kajian studi Alquran. Dan begitu banyak kitab-kitab kontemporer yang membahas Alquran dengan berbagai metode. Pada pertengahan abad XIX Masehi, timbul di eropa usaha-usaha dari beberapa orientalis menyusun surat Alquran dan mempelajari fasefase yang berhubungan dengan sejarah turunya. Mereka itu antara lain: Pertama,   G. Weil telah berusaha menyususn surat Alquran secara kronologis, dimulai tahun 1844 dan baru selesai tahun1872 di dalam bukunya “Historisch Kritische Einletung in der Koran” sayang sekali di dalam usahanya menyususn tertib surat-surat Alquran secara kronologis itu, G.Well tidak menghargai riwayat-riwayat, dan sanad-sanad (sumber) dari kalangan islam sendiri. Tetapi anehnya  ia sipuji oleh Blachere sebagaiseoerang yang berhasil dengan metodenya itu memperoleh data-data yang benar. Kedua,    BLachere di dalam bukunya “Le Goran, Trduction Selon Un Essai De Reclassemenet des Sourates” yang berusaha melakukan terjemahan terhadap Alquran. Menurutnya terjemahan tersebut adalah terjemahan yang paling cermat dan teruji, karena nilai ilmiyah yang menonjol didalamnya. Hanya saja tertib surat yang secara kronoligis yang di lakukan oleh Blachere sebagaimana diakuinya dengan metode yang tidak terlepas dari mencari-cari sesuatu tanpa petunjuk atau pedoman.
Usaha-usaha dari beberapa orientalis Barat yang berusaha menyusun surat Alquran dan mempelajari fase-fase yang berhubungan dengan sejarah turunnya tersebu, sedikit banyaknya telah mempengaruhi perkembangan Studi Alquran diakhir-akhir ini, lebih-lebih lagi dengan telah banyaknya orang-orang Muslim yang belajar Agama di Dunia Barat, yang pada akhirnya memberikan warna tersendiri bagi perkembangan Studi islam pada umumnya dan Studi Alquran khususnya.

H.    Kesimpulan
Dari Uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Alquran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melaui malaikat Jibril secara beransur-ansur dengan cara mutawatir dan membacanya di padang ibadah. Kajian Studi Alquran telah banyak dilakukan oleh para muslim awal. Rasulullah sebagai penafsir pertama sebagai bukti bahwa telah adanya kajian dimasa-masa Awal Islam. Dengan berjalannya waktu perkembangan kajian studi Alquran mulai dikembangkan melalui pendekatan dari berbagai disiplin ilmu yang metode untuk penafsiran ayat-ayat Alquran lebih mudah. Hingga saat ini empat metode yang telah ditemukan dalam menafsirkan Alquran, antara lain metode tahlily, metode Ijmali, metode muqarin dan metode maudhu’I serta teralkir juga muncul metode tafsir konstektual. Perkembangan terakhir dalam studi Alquran selain dari umat islam itu sendiri, salah satunya dapat kita lihat dari berbagai usaha para orientalis dalam menyusun surat-surat Alquran secara kronologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar